Sentimen Risiko Bangkit Kembali, Dolar dan Yen Terjungkal di Pasar Asia
Thursday, July 22, 2021       08:30 WIB

Ipotnews - Aset  safe-haven,  dolar AS dan yen, masih berada dalam tekanan, Kamis, setelah tergelincir dari level tertinggi multi-bulan di tengah pemulihan selera risiko karena laporan keuangan yang kuat mendongkrak bursa Wall Street.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur  greenback  terhadap sekeranjang enam mata uang utama, bertahan di 92,810 setelah mundur dari tingkat tertinggi tiga setengah bulan di 93,194 yang disentuh pada sesi Rabu, demikian laporan  Reuters,  di Tokyo, Kamis (22/7).
Yen diperdagangkan 130,045 per euro, dari level tertinggi hampir empat bulan di 128,610 awal pekan ini, dan di 81,00 terhadap dolar Australia, dari puncak lima setengah bulan, yakni 79,85.
"Laporan keuangan yang kuat menyapu kekhawatiran Delta di Amerika Serikat," membebani mata uang  safe-haven,  ujar analis National Australia Bank, Tapas Strickland.
"Konsensusnya adalah (varian Delta) tidak menimbulkan risiko langsung terhadap pemulihan," menunda pembukaan kembali paling lama tiga bulan karena sejumlah negara meningkatkan upaya vaksinasi sebagai tanggapan, kata dia.
Poundsterling diperdagangkan USD1,3708, pulih dari tingkat terendah lima setengah bulan di USD1,35725 yang dicapai pada sesi Selasa, meski kasus varian Delta melesat di Inggris dan ada ketidakpastian seputar pencabutan pembatasan di Inggris.
Aussie berpindah tangan di USD0,7350, dari level terendah delapan bulan, yakni USD0,72895, pada hari sebelumnya, bahkan dengan setengah populasi Australia dikunci.
Euro berdiri di USD1,1789, bangkit dari level terendah tiga setengah bulan, USD1,1752, pada sesi Rabu, menjelang keputusan kebijakan Bank Sentral Eropa hari ini.
Pembuat kebijakan akan mengimplementasikan untuk pertama kalinya perubahan pada strategi mereka dan semuanya pasti menjanjikan periode stimulus yang lebih lama lagi untuk memenuhi komitmennya guna mendorong inflasi.
Analis umumnya melihat sikap  dovish  ECB melemahkan euro dalam jangka menengah.
"Target inflasi terbaru ECB menunjukkan kebijakan moneter akan tetap ultra-akomodatif untuk jangka waktu yang lebih lama," yang akan bertindak sebagai tekanan bagi euro, tutur analis Commonwealth Bank of Australia, Kim Mundy dan Carol Kong.
"Memang, kami memperkirakan ECB akan menjadi salah satu bank sentral terakhir yang berada dalam cakupan kami untuk memperketat kebijakan." (ef)

Sumber : Admin