Stok Amerika Turun Lebih Tajam dari Estimasi, Penguatan Minyak Berlanjut
Thursday, September 23, 2021       14:29 WIB

Ipotnews - Harga minyak memperpanjang kenaikan, Kamis, bergerak lebih tinggi di tengah meningkatnya permintaan bahan bakar dan penarikan yang lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak mentah Amerika, karena produksi di Teluk Meksiko tetap terhambat setelah dihantam dua badai.
Pasar juga didukung oleh kembalinya selera untuk aset berisiko seiring meredanya kekhawatiran atas potensi  default  pengembang properti China Evergrande dan kemungkinan dampaknya terhadap ekonomi terbesar kedua di dunia itu.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), patokan Amerika Serikat, naik 15 sen, atau 0,21%, menjadi USD72,38 per barel pada pukul 143.11 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Kamis (23/9).
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, bertambah 16 sen, atau 0,21%, menjadi USD76,35 per barel.
Kedua kontrak itu melonjak 2,5% pada penutupan Rabu setelah data dari Badan Informasi Energi (EIA) AS menunjukkan stok minyak mentah Amerika menyusut 3,5 juta barel menjadi 414 juta barel dalam sepekan hingga 17 September--total terendah sejak Oktober 2018--dalam penarikan yang lebih besar ketimbang ekspektasi analis.
"Dengan produksi Teluk Meksiko kembali melambat, dan harga gas alam tetap tinggi, prospek struktural bagi minyak tetap menjanjikan ketika OPEC Plus berjuang untuk memenuhi kuota produksinya saat ini," kata Jeffrey Halley, analis OANDA.
Beberapa negara OPEC Plus--termasuk Nigeria, Angola dan Kazakhstan--berjuang dalam beberapa bulan terakhir untuk meningkatkan output karena beberapa tahun minimnya investasi atau pekerjaan  maintenance  yang tertunda akibat pandemi Covid-19.
Sebagai tanda permintaan bahan bakar yang kuat ketika larangan perjalanan dilonggarkan, tingkat pemanfaatan pengilangan Pantai Timur di Amerika Serikat melesat menjadi 93%, level tertinggi sejak Mei 2019, data EIA menunjukkan.
ANZ Research mengatakan sentimen pasar juga didukung oleh lonjakan harga gas alam.
"Kekurangan pasokan gas dapat mendorong utilitas listrik untuk beralih dari gas ke minyak jika musim dingin menjadi lebih dingin tahun ini," kata analis ANZ.
Harga gas alam meningkat tajam di seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir. Itu disebabkan kombinasi sejumlah faktor, termasuk peningkatan permintaan, terutama dari Asia, saat memasuki pemulihan pascapandemi, persediaan gas yang rendah, dan pasokan gas yang lebih ketat dari biasanya dari Rusia.
Penguatan harga minyak terjadi bahkan ketika dolar AS bertahan di dekat level tertinggi satu bulan setelah Federal Reserve mengisyaratkan kenaikan suku bunga bisa terjadi tahun depan, lebih cepat dari ekspektasi.
Harga minyak biasanya turun ketika dolar naik karena  greenback  yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. (ef)

Sumber : Admin