Tanpa Data Valid, Perpanjangan Penguncian dan Pembatasan Aktivitas akan Memicu Penentangan
Friday, May 22, 2020       13:45 WIB

Ipotnews - Tanpa dukungan data yang valid, kebijakan perpanjangan penguncian atau pun pembatasan aktivitas penduduk - yang ditujukan untuk mencegah penyebaran virus korona - di sejumlah tempat mulai dirasakan sebagai masalah . Setidaknya, kini mulai bermunculan berita atau laporan tentang penentangan warga terhadap penerapan pembatasan dan penguncian.
Penentangan terhadap keputusan pemerintah untuk tetap menerapkan pembatasan sosial secara ketat, juga muncul di New York. Keputusan Gubernur Andrew Cuomo dam Walikota Bill de Blasio memperpanjang penutupan/pembatasan aktivitas ekonomi terkait virus korona dituding telah menjerumuskan puluhan ribu warga New York ke dalam kemiskinan.
Koresponden The Federalist, David Marcus menyerukan agar  lockdown  harus berakhir, saat ini juga. "Pada pertengahan Maret, kita iberitahu bahwa kami harus mempertahankan  lockdown  untuk memastikan bahwa rumah sakit tidak dibanjiri. Kita telah melakukannya. Rumah sakit tidak kewalahan. Kita mengubah Javits Center menjadi rumah sakit. Kita tidak membutuhkanndya. Kita mendatangkan kapal Angkatan Laut raksasa untuk merawat penduduk New York. Kita tidak membutuhkannya," tulisnya dalam kolom opini New York Post, Rabu (20/5).
"Kita diberi tahu bahwa kita akan segera kehabisan ventilator. Tenyata tidak, dan sekarang Amerika Serikat telah membuat begitu banyak, kita memberikannya ke negara lain," imbuhnya.
Sementara itu, Marcu memaparkaan, Big Apple sedang sekarat. Jalanannya kosong. Bar dan klub jazz, restoran dan kedai kopi tandus. Ekuitas hasil keringat pemilik usaha kecil yang tak terhitung jumlahnya menguap. Alih-alih membuat orang kembali bekerja menyediakan kebutuhan bagi keluarga mereka, Marcus menyebut, "walikota New York malah berbicara tentang dunia fantasi New Deal untuk era pasca-virus korona.
Oleh karena itu ia menyerukan, agar New York dibuka kembali. "Buka kota. Semua. Sekarang juga. Pertunjukan Broadway, pantai, permainan Yankees, sekolah-sekolah, puncak gedung Empire State. Segala sesuatu, tulis Marcus. "Orang-orang New York telah belajar untuk menjaga jarak sosial. Bisnis dapat menyesuaikan. Orang tua dan orang sakit dapat terus diisolasi."
Selama dua bulan, ungkap Marcus, warga New York telah menunggu Cuomo dan de Blasio untuk memberi tahu, bagaimana kasus ini akan berakhir. "Di mana mantan Walikota Michael Bloomberg dengan tentara pelacaknya yang dikatakan gubernur adalah kunci untuk membuka kembali? Dan mengapa dia menyerahkan tanggung jawab itu kepada Bloomberg, yang toh tak seorang pun memilih?"
Marcus mempertanyakan; Apa yang sedang terjadi? Adakah yang bertanggung jawab atas situasi ini? Atau apakah kita baru saja pergi dengan gubernur dan saudara lelakinya yang berbicara di CNN tentang yang mana yang paling disukai Ma? (Siapa peduli?)
Pada akhir April, Gubernur Georgia Brian Kemp menantang para ahli dengan membuka negara bagian. Majalah Atlantic, yang dulunya merupakan publikasi serius yang kini muncul seperti permen karet basi, menuduh Kemp terlibat dalam "pengorbanan manusia."
"Anda ingin menebak apa yang terjadi? Tebak, ayo, tebak. Alih-alih mendakati prediksi lonjakan kematian, jumlah kasus virus korona dan kematian yang terkait malah menurun," ungkap Msrcus.
Marcus menyatakan, bahwa New York harus selalu menganggap bahwa mereka dipimpin oleh orang idiot. Menurutnya, denga mengutip ucapan seorang teman, Cuomo dan de Blasio tidak punya rencana. Tidak ada satu pertanyaan pun tentang kapan New York dapat kembali normal yang memiliki jawaban langsung dari mereka. "Bukan hanya itu. Mereka menguangkan gaji pembayar pajak sambil membuat kami semua marah."
Marcus menyatakan, jika para pemimpin terpilih tidak menyelamatkan kota terhebat dunia dari kematian perlahan karena pencekikan ekonomi, maka orang-orang New York harus melakukannya sendiri. "Tukang cukur, penjahit, salon kuku, toko barang olahraga, bioskop dan lainnya harus membuka pintu - sambil menjaga jarak sosial, tentu saja - dan menantang negara untuk menutupnya."
Ia mengingatkan bahwa politisi seharusnya melayani dengan persetujuan warrga; "Kami tidak menjalankan bisnis kita atau menjalani hidup kita dengan persetujuan mereka. Saran yang bertentangan adalah penghinaan terhadap Amerikanisme," seru Marcus.
Menurutnya, sudah terlalu lama sejak AS, apalagi New York, benar-benar harus berurusan dengan kemugkinan kelaparan massal. "Ini bukan tentang pasar saham - ini tentang orang tua yang membuat anak-anak mereka kelaparan dan berharap besok akan ada sesuatu untuk mereka makan jika mereka bangun jam 4.30 pagi dan mengantre di bank makanan."
"Kita sudah melakukan apa yang diminta. Kita sudah menekan kurva ketakuutan. Jadi tidak ada lagi pembenaran yang masuk akal bagi pemerintah untuk mencabut mata pencaharian kita. Dan hak kita bukan tugas pemerintah untuk memberikan atau mengambilnya. Mereka milik kita - pemberian alam bebas dan Dewa alam." (New York Post)

Sumber : Admin

berita terbaru
Wednesday, Sep 23, 2020 - 14:17 WIB
Hasil RUPS September 2020 JIHD
Wednesday, Sep 23, 2020 - 14:13 WIB
Hasil RUPS September 2020 POOL
Wednesday, Sep 23, 2020 - 13:59 WIB
Hasil RUPS September 2020 INDO
Wednesday, Sep 23, 2020 - 13:39 WIB
Target Price CPIN
Wednesday, Sep 23, 2020 - 13:38 WIB
Target Price MDKA