Tembaga Melemah, Merespons Potensi Perlambatan Ekonomi Global
Wednesday, June 12, 2019       16:14 WIB

Ipotnews - Harga tembaga ditransaksikan dalam kisaran ketat di tengah minimnya kemajuan dalam sengketa perdagangan antara Washington dan Beijing, sementara data China yang lembut memicu kekhawatiran tentang perlambatan global.
Presiden Donald Trump, Selasa, membela penggunaan tarif sebagai bagian dari strategi perdagangannya, dan mengatakan dia akan mendorong kesepakatan perdagangan dengan China sampai Beijing menyetujui targetnya, sementara China bersumpah akan memberikan respons jika Amerika Serikat bersikeras meningkatkan ketegangan perdagangan.
Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,2 persen menjadi USD5.866,50 per ton pada pukul 15.14 WIB, demikian laporan  Reuters , di Singapura, Rabu (12/6).
Sementara itu, kontrak tembaga yang paling aktif diperdagangkan di Shanghai Futures Exchange menyusut sekitar 0,4 persen menjadi 46,480 yuan (USD6.723,47) per ton .
Harga logam dasar lainnya dalam kompleks LME bergerak variatif. Aluminium London tercatat menguat 0,3 persen, nikel turun 0,7 persen, seng meningkat 0,3 persen, sementara timbal ( lead ) berkurang 0,4 persen dan timah anjlok 1,3 persen.
Penjualan mobil di China merosot 16,4 persen pada periode Mei dari bulan yang sama tahun sebelumnya, menurut asosiasi industri otomotif terbesar di negara tersebut, Rabu, penurunan bulanan ke-11 berturut-turut di pasar kendaraan terbesar di dunia itu.
Inflasi pabrik China melambat di tengah permintaan komoditas yang lesu dan aktivitas manufaktur yang goyah, menyusut dari bulan sebelumnya dan memicu kekhawatiran pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua di dunia bakal terperosok.
Anak usaha Freeport-McMoRan Inc di Indonesia akan memulai pembangunan smelter tembaga pada pertengahan 2020, dan mulai berproduksi pada akhir 2023, dengan kapasitas input dua juta ton konsentrat tembaga.
Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Kanada dan Australia untuk membantu negara-negara di seluruh dunia mengembangkan cadangan mineral mereka seperti lithium, tembaga dan kobalt, sebagai bagian dari strategi multi-cabang guna mengurangi ketergantungan global pada China.
China meluncurkan survei sumber daya alam  rare earth  di tujuh wilayah, Senin, menurut  China Securities Journal , Selasa, di tengah spekulasi Beijing mungkin akan mengekang ekspor logam tersebut ke Amerika Serikat. (ef)

Sumber : Admin

berita terbaru
Tuesday, Jun 18, 2019 - 18:43 WIB
Hasil RUPS Juni 2019 TAXI
Tuesday, Jun 18, 2019 - 18:21 WIB
Kinerja Moncer, MDKA Alokasikan Capex USD160 Juta
Tuesday, Jun 18, 2019 - 18:17 WIB
Terkendala Beban Utang, BUMI Tak Tebar Dividen
Tuesday, Jun 18, 2019 - 17:31 WIB
Evening Update 2019/06/18
Tuesday, Jun 18, 2019 - 17:29 WIB
Mahar Kawin dengan Reksa Dana? Bisa Banget
Tuesday, Jun 18, 2019 - 17:07 WIB
Financial Statements 1Q 2019 of RELI