Tembaga Teruskan "Rebound" di Tengah Harapan Kesepakatan AS-China
Thursday, May 16, 2019       05:52 WIB

Ipotnews - Tembaga melanjutkan kenaikan, Rabu, karena harapan Amerika Serikat dan China akan membuat kesepakatan perdagangan, yang dibayangi data ekonomi sebagian besar mengecewakan dari konsumen logam utama China.
Namun, aluminium tergelincir setelah  output  China mengalami peningkatan, mengipasi kekhawatiran kelebihan pasokan ( oversupply ).
Presiden Donald Trump menyebut perang dagang dengan China hanyalah "pertengkaran kecil" dan mengatakan kesepakatan akan diselesaikan ketika "waktunya tepat".
"Sepertinya berita makro dari AS mengenai perundingan perdagangan mengungguli semua berita yang lebih negatif, termasuk data China untuk April yang merupakan pembalikan dari data positif yang kita dapati pada periode Maret," kata Robin Bhar, Kepala Riset Societe Generale di London.
China secara mengejutkan melaporkan pertumbuhan penjualan ritel dan  output  industri yang lebih lemah pada April, Rabu, menambah tekanan bagi Beijing untuk meluncurkan lebih banyak stimulus.
"Hikmahnya adalah karena data China tetap lemah, pemerintah harus merespons dengan pemotongan suku bunga dan stimulus fiskal lebih banyak lagi, sehingga menunjukkan semester kedua tahun ini bisa menjadi jauh lebih baik dalam hal pertumbuhan China," kata Bhar.
Harga tembaga untuk kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange melonjak satu persen menjadi USD6.085 per ton dalam sesi penutupan, setelah mencapai level terendah tiga setengah bulan awal pekan ini, demikian laporan  Reuters , di London, Rabu (15/5) atau Kamis (16/5) dini hari WIB.
Harga aluminium LME berakhir naik 0,5 persen menjadi USD1.855 per ton, pulih dari kerugian sebelumnya setelah China melaporkan  output  aluminium untuk April melambung 3,9 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi 2,92 juta ton.
"Kelebihan produksi akan menjadi tren ke depan dan bakal berdampak negatif terhadap harga aluminium. Ekonomi melambat, permintaan tidak kuat," kata Helen Lau, analis Argonaut Securities di Hong Kong.
Logam dasar lainnya, timah LME naik 0,3 persen menjadi berakhir di posisi USD19.845 per ton, bangkit kembali dari zona merah setelah persediaan LME melonjak 23 persen dalam satu hari.
Nikel LME, tidak diperdagangkan pada penutupan, melesat 2,1 persen menjadi USD12.150 per ton dalam  electronic trading  pada pukul 23.00 WIB, dibantu oleh sinyal berbasis grafik.
Seng LME menguat 1,2 persen menjadi ditutup pada posisi USD2.626 per ton sedangkan timbal naik 0,6 persen menjadi USD1.813,50 per ton. (ef)

Sumber : Admin