Timur Tengah Memanas, Minyak Melesat ke Level Tertinggi Tujuh Tahun
Tuesday, January 18, 2022       15:38 WIB

Ipotnews - Harga minyak melonjak lebih dari USD1 ke level tertinggi lebih dari tujuh tahun, Selasa, di tengah kekhawatiran tentang kemungkinan gangguan pasokan setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Uni Emirat Arab, meningkatkan permusuhan antara kelompok yang bersekutu dengan Iran itu dengan koalisi yang dipimpin Arab Saudi.
"Ketegangan geopolitik terbaru itu menambah tanda-tanda pengetatan yang sedang berlangsung di seluruh pasar," kata analis ANZ Research.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, melesat USD1,37 atau 1,6%, menjadi USD87,85 per barel pada pukul 14.38 WIB, demikian laporan  Reuters,  di Singapura, Selasa (18/1).
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melambung USD1,71 atau 2%, dari setelmen Jumat menjadi USD85,53 per barel. Perdagangan pada sesi Senin relatif tenang karena itu adalah hari libur nasional di Amerika.
Kedua  benchmark  tersebut melejit ke level tertinggi sejak Oktober 2014 pada perdagangan Selasa.
Setelah meluncurkan serangan drone dan rudal yang memicu ledakan di truk bahan bakar dan menewaskan tiga orang, gerakan Houthi memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan lebih banyak fasilitas, sementara UEA mengatakan mereka berhak untuk "menanggapi serangan teroris tersebut."
Perusahaan minyak UEA, ADNOC, mengatakan telah mengaktifkan rencana kesinambungan bisnis untuk memastikan pasokan produk yang tidak terputus ke pelanggan lokal dan internasionalnya setelah insiden di depot bahan bakar Mussafah.
Analis CommSec mengatakan harga minyak juga didukung oleh suhu musim dingin yang lebih ekstrem di belahan bumi utara, yang mendorong permintaan bahan bakar pemanas.
"Proyeksi analis memperkirakan permintaan melebihi pasokan tahun ini karena dunia terbuka dari penguncian selama 2 tahun dan melanjutkan lintasan permintaan yang lebih normal," kata Ash Glover, analis CMC Markets.
Keseimbangan pasokan-permintaan yang ketat tidak mungkin berkurang, kata para analis.
Beberapa produsen dalam tubuh Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) berjuang untuk memompa pada kapasitas yang diizinkan, karena minimnya investasi dan gangguan, berdasarkan perjanjian dengan Rusia dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, untuk menambah 400.000 barel per hari setiap bulan.
"Itu bakal terus mendukung minyak dan meningkatkan pembicaraan tentang harga tiga digit," kata analis OANDA, Craig Erlam.
"Jika ketegangan geopolitik saat ini berlanjut dan anggota OPEC Plus tidak dapat memenuhi kenaikan 400.000 barel per haria, makro ditambah dengan prospek teknikal yang kuat dapat melihat harga didorong menuju USD100 yang merupakan tempat level technical resistance berikutnya," kata Glover. (ef)

Sumber : Admin