Trump Bakal Tunda Tarif Impor Kendaraan, Euro Kembali ke Jalur Apresiasi
Thursday, May 16, 2019       04:58 WIB

Ipotnews - Euro mengoreksi kembali pelemahan sebelumnya terhadap dolar AS, Rabu, setelah pejabat pemerintah mengatakan Presiden Donald Trump diperkirakan menunda keputusan tentang tarif pada mobil dan suku cadang yang diimpor hingga enam bulan.
Pengumuman resmi diprediksi Sabtu, saat tanggal jatuh tempo bagi Trump untuk membuat keputusan atas rekomendasi Departemen Perdagangan untuk melindungi industri otomotif Amerika Serikat dari impor dengan alasan keamanan nasional, demikian laporan Reuters dan Xinhua, di New York, Rabu (15/5) atau Kamis (16/5) pagi WIB.
"Asumsinya adalah akan menunda setiap tarif pada otomotif Eropa, yang telah menjadi masalah yang menggantung pada perundingan perdagangan yang lebih luas," kata Shaun Osborne, analis Scotiabank di Toronto.
Dolar AS diuntungkan dari status safe haven-nya bahkan ketika Amerika Serikat dan China tetap terkunci dalam perang dagang.
Trump mengancam tarif yang lebih tinggi pada miliaran dolar impor China, minggu lalu, dan Beijing merespons dengan kenaikan tarif yang direncanakan, Senin.
Sebelumnya, euro melemah setelah Deputi Perdana Menteri Italia Matteo Salvini mengkritik aturan Uni Eropa untuk hari kedua.
"Jika ada aturan Eropa yang membuat kelaparan di benua tersebut, aturan ini harus diubah," kata Salvini, Rabu, sehari setelah dia mengatakan pemerintah siap untuk melanggar aturan Uni Eropa yang berusaha membatasi defisit anggaran dan mengekang utang yang berlebihan.
"Pasti ada kekhawatiran menjelang pemilu Eropa minggu depan bahwa mungkin ada lebih banyak retorika menentang Uni Eropa," kata Erik Nelson, analis Wells Fargo di New York.
Komentar Salvini dibayangi data yang menunjukkan ekonomi Jerman kembali ke jalir pertumbuhan pada kuartal pertama, karena belanja rumah tangga lebih besar dan aktivitas konstruksi meningkat.
Mata uang safe-haven termasuk yen Jepang dan dolar AS juga mendapatkan dorongan setelah data ekonomi yang lemah di China menimbulkan kekhawatiran baru tentang pertumbuhan di negara itu.
China secara mengejutkan melaporkan pertumbuhan penjualan ritel dan output industri lebih lemah untuk periode April, menambah tekanan pada Beijing untuk meluncurkan lebih banyak stimulus moneter seiring meningkatnya perang perdagangan dengan AS.
"Data ini mendahului putaran tarif terbaru, sehingga agak mengkhawatirkan bahkan sebelum ini berkobar kami melihat beberapa kelemahan," kata Nelson.
Data AS, Rabu, menunjukkan bahwa penjualan ritel Amerika di luar dugaan turun pada April karena rumah tangga mengurangi pembelian kendaraan bermotor dan sejumlah barang lainnya, sementara produksi industri juga melambat pada bulan lalu.
Indeks dolar, ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,04 persen menjadi 97,5705 pada akhir perdagangan.
Pada akhir perdagangan di pound Inggris turun menjadi USD1,2843 dari USD1,2904 di sesi sebelumnya. Dolar Australia melemah jadi USD0,6927 dari USD0,6944.
Sementara itu, dolar AS dibeli 109,55 yen, lebih rendah dari 109,63 yen pada sesi sebelumnya. Kurs greenback turun menjadi 1,0092 franc Swiss dari 1,0094 franc Swiss, dan menyusut ke posisi1,3438 dolar Kanada dari 1,3466 dolar Kanada. (ef)

Sumber : Admin