Untuk Sementara Kabar Baik Vaksin Covid-19 Gagal Selamatkan Bursa Wall Street  
Saturday, November 21, 2020       07:07 WIB

Ipotnews - Pasar saham Wall Street di USA ke zona pelemahan pada ujung perdagangan pekan ini. Para pemodal bergumul dengan isu-isu soal perkembangan stimulus fiskal USA, ketakutan pada peluncuran vaksin covid-19 yang berkepanjangan serta banyaknyanegara bagian USA menerapkan lockdownuntuk mengatasi penyebaran virus covid-19.
Saham Zoom dan Netflix yang telah unggul selama pandemi corona, membantu untuk menahan pelemahan lebih dalam Indeks Nasdaq.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 219,75 poin atau 0,75% ke posisi 29.263. Indeks S&P 500 kehilangan 24,33 poin atau 0,68% menjadi 3.557 dan Indeks Nasdaq Composite turun 49,74 poin atau 0,42% pada level 11.854.
Sepanjang pekan ini, pasang surut berita vaksin dan lonjakan infeksi telah membuat investor terombang-ambing di antara saham siklus yang sensitif secara ekonomi dan saham pemimpin pasar yang tahan pandemi.
Indeks S&P 500 dan Dow Jones membukukan kerugian tipis pada minggu ini. Sementara Indeks Nasdaq yang sarat teknologi menguat sedikit lebih tinggi dari penutupan Jumat lalu.
"Pasar masih terjebak dalam tarik ulur antara peningkatan dramatis kasus COVID baru versus kemajuan nyata pada vaksin," kata David Carter, kepala investasi di Lenox Wealth Advisors di New York. "Ini kemungkinan akan berlanjut sampai kami memiliki vaksin yang disetujui dan didistribusikan."
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin pada Kamis malam, mengumumkan bahwa ia akan mengizinkan program kredit bantuan pandemi di Federal Reserve yang berakhir pada akhir tahun. Dia mengatakan sebesar USD 455 miliar yang dialokasikan musim semi lalu di bawah undang-undang CARES harus dikembalikan ke Kongres untuk dialokasikan kembali sebagai hibah untuk perusahaan kecil.
Keputusan untuk menghentikan program kredit yang dianggap penting oleh bank sentral datang pada saat kasus baru infeksi virus corona meningkat dan gelombang baru PHK, dan disebut "mengecewakan" oleh Presiden Federal Reserve Chicago Charles Evans.
"Masalah antara The Fed dan Departemen Keuangan ini bisa berdampak serius, karena pasar ingin melihat kedua institusi bekerja sama dengan baik," tambah Carter. "Waktu untuk menyatakan hal ini sangat disayangkan, karena risiko COVID masih sangat tinggi."
Rekor angka infeksi telah menyebabkan rawat inap COVID melonjak hingga 50% dan telah mendorong babak baru penutupan sekolah dan bisnis, jam malam dan pembatasan jarak sosial, yang menghambat pemulihan ekonomi dari resesi.
Perkembangan terbaru uji vaksin covid-19, Pfizer Inc telah mengajukan permohonan izin penggunaan darurat vaksin COVID-19 ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS. Saham Pfizer, pembuat obat tersebut naik 1,4%, dan memberikan dorongan terbesar kepada Indeks S&P 500.
Dari 11 sektor utama dalam Indeks S&P 500, hanya utilitas yang menguat di menit-menit akhir. Sektor tech dan industrials mengalami persentase kerugian terbesar pada hari itu. Saham Zoom menjadi penopang terkuat bagi Indeks Nasdaq.
Gilead Sciences melemah 0,9% karena panel Organisasi Kesehatan Dunia menyarankan agar tidak menggunakan remdesivir untuk pengobatan COVID-19 yang dibuat oleh Gilead. WHO memberi alasan kurangnya bukti bahwa obat tersebut meningkatkan kelangsungan hidup atau mengurangi kebutuhan ventilator
Indeks S&P 500 membukukan 17 kali posisi tertinggi baru dalam 52 minggu dan tidak ada posisi terendah baru. Sedangkan Indeks Nasdaq Composite mencatat 122 tertinggi baru dan 10 terendah baru.
Volume perdagangan di bursa AS sebanyak 10,69 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata perdagangan selama 20 hari terakhir sebanyak 10,70 miliar.
(reuters)

Sumber : admin