Pembiayaan Berkelanjutan BMRI Tembus Rp 320 Triliun
Tuesday, April 21, 2026       17:13 WIB

JAKARTA, investor.id- PT Bank Mandiri Tbk () terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar pembiayaan hijau di Indonesia. Hingga Maret 2026, bank pelat merah ini mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp 320 triliun, tumbuh 8,8% secara year on year (yoy).
Pencapaian ini didorong oleh integrasi prinsip Environmental , Social , and Governance (ESG) ke dalam tiga pilar utama bisnis perseroan, yakni Sustainable Banking , Sustainable Operation , dan Sustainability Beyond Banking .
Dari total pembiayaan tersebut, sebesar Rp 167 triliun merupakanpembiayaan hijauyang melonjak 12,6% yoy. Sementara itu, portofolio sosial tercatat sebesar Rp 153 triliun atau naik 5,1% yoy. Dengan angka ini, Bank Mandiri menguasai lebih dari 35% pangsa pasar pembiayaan hijau di antara tiga bank besar nasional.
Pada kuartal I-2026, Bank Mandiri mengucurkan pembiayaan baru senilai Rp 3,6 triliun untuk sektor green building dan Rp 5,2 triliun untuk pengelolaan sumber daya alam (SDA) hayati. Langkah ini sejalan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mendorong pengembangan produk keuangan berkelanjutan.
Untuk mendukung pendanaan, perseroan telah mengalokasikan penuh dana Green Bond Tahap II sebesar Rp 5 triliun. Alokasi tersebut disalurkan sebesar 72% untuk sektor pengelolaan SDA hayati dan 28% untuk transportasi ramah lingkungan.
Selain pada fungsi intermediasi, Bank Mandiri menerapkan prinsip keberlanjutan pada operasional perusahaan. Upaya ini mencakup penggunaan kendaraan listrik, optimalisasi gedung ramah lingkungan ( green building ), hingga pemasangan panel surya dan penyediaan charging station .
Bank Mandiri juga mulai menghitung emisi Scope 3 , termasuk penggunaan kertas dan perjalanan dinas, yang didukung oleh sistem digital carbon tracking agar pemantauan emisi menjadi lebih terukur.
Pada pilar Sustainability Beyond Banking , perseroan memperkuat inklusi keuangan melalui platform Livin' Merchant . Selain itu, Bank Mandiri berencana meluncurkan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) untuk segmen ritel melalui fitur Livin' Planet yang bekerja sama dengan IDX Carbon .
"Dengan kinerja dan fundamental yang solid, kami optimistis Bank Mandiri dapat memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat industri perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," tegas Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, dalam paparan publik terkait laporan keuangan kuartal I-2026 PT Bank Mandiri Tbk () di Jakarta, pada Senin (21/4/2026).
Laba Bersih Tumbuh 16,6%
Selain terus memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar pembiayaan hijau, emiten bersandi ini juga melaporkan kinerja solid pada kuartal I-2026 dengan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,4 triliun. Angka ini tumbuh 16,6% yoy, yang sekaligus menunjukkan resiliensi perseroan di tengah tekanan geopolitik global dan volatilitas pasar keuangan internasional.
Pertumbuhan laba tersebut diikuti oleh profitabilitas yang kokoh dengan Return on Equity (ROE) di level 22,1%. Selain itu, ketahanan permodalan Bank Mandiri tetap terjaga dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) di posisi 19,7%, memberikan ruang gerak luas untuk ekspansi bisnis berkelanjutan.
Riduan menyatakan bahwa capaian ini merupakan hasil dari strategi sinergi yang terarah. Bank Mandiri mengedepankan semangat Sinergi Majukan Negeri melalui penguatan sinergi UMKM dan ekonomi kreatif, serta sinergi ekosistem digital.
"Kinerja yang kami hasilkan bukan hanya mencerminkan pertumbuhan bisnis semata, tetapi merupakan hasil nyata dari fokus sinergi yang melibatkan berbagai unsur perekonomian nasional, sejalan dengan komitmen kami untuk terus menjadi kontributor utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Riduan.
Perolehan laba turut didukung fungsi intermediasi yang tumbuh akseleratif di atas rata-rata industri. Per Maret 2026, penyaluran kredit tercatat mencapai Rp 1.530 triliun, melonjak 17,4% yoy. Sebagai perbandingan, rata-rata pertumbuhan kredit industri per Maret 2026 menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yaitu sebesar 10,42% yoy.
Sejalan dengan kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only menyentuh Rp 1.675 triliun atau naik 21,1% yoy. Struktur pendanaan perusahaan juga semakin sehat dengan dominasi dana murah () yang mencapai Rp 1.201 triliun, tumbuh 12,7% yoy.
Efisiensi operasional pun terus meningkat, tercermin dari rasio Belanja Operasional terhadap Pendapatan Operasional ( BOPO ) yang membaik ke level 58,0% atau turun 3,48% yoy.
Meski ekspansi berlangsung masif, Bank Mandiri tetap disiplin dalam menjaga kualitas aset. Rasio kredit bermasalah ( non-performing loan /NPL) gross  bank only berada di level 0,98%, membaik 3 bps dibandingkan periode tahun lalu.
Guna mengantisipasi risiko masa depan, perseroan juga memperkuat bantalan pencadangan dengan NPL Coverage Ratio di level yang sangat konservatif, yakni 245%. Dengan fondasi ini, Bank Mandiri optimis dapat menjaga ketahanan menghadapi potensi gejolak pasar ke depan.

Sumber : investor.id

berita terbaru